Text Size

Secuil Kisah Evolusi Hukum Dari Negeri ‘Paman Sam’

(Sinopsis Film Monolog ”Thurgood”)Tahun 2011 sebetulnya ada salah satu film (movie) yang tidak banyak terekspos oleh media atau penggemar film baik di Amerika Serikat maupun di Indonesia. Film tersebut sangat apik digarap oleh sutradara yang bernama Michael Stevens dan diperankan dengan sangat baik oleh Laurence Fishburne secara monolog. Film ini sendiri dilatarbelakangi oleh kisah seorang anggota hakim berkulit hitam pertama kali di Mahkamah Agung (Supreme Court) Amerika Serikat. Film tersebut dirilis dengan judul ”Thurgood”.

Thurgood Marshall, lahir di Baltimore, Maryland, Amerika Serikat, pada tanggal 2 Juli 1908 – meninggal di Bethesda, Maryland, Amerika Serikat, 24 Januari 1993 pada umur 84 tahun) adalah warga Afrika-Amerika pertama yang tergabung di Mahkamah Agung Amerika Serikat dan juga staf pengacara di National Advancement of Colored People (NAACP). Dia dilahirkan dari pasangan William dan Norma Marshall. Pada tahun 1925, Thurgood yang ingin melanjutkan pendidikannya di Sekolah Hukum Maryland (Maryland Law School). Namun, ia ditolak karena berkulit hitam sehingga akhirnya dia melanjutkan ke Sekolah Hukum Howard (Howard Law School), Washington DC. Setelah menamatkan studinya, Thurgood memulai praktik hukumnya sendiri di Baltimore. Dia menangani banyak kasus, termasuk masalah kasus persamaan hak sipil yang menjadi kesukaanya. Dia tetap melayani masyarakat yang tidak memiliki uang untuk membayar pengacara. Pada tahun 1934, Thurgood bekerja pada NAACP, suatu lembaga yang memperjuangkan hak sipil warga Afrika-Amerika.[2]

Dari lembaga swadaya inilah nama dan kebesarannya sebagai seorang pegiat HAM benar-benar mencuri perhatian pemerintah saat itu. Sepak terjangnya dalam bidang HAM terutama perjuangan bagi warga kulit hitam untuk dapat memperoleh hak-hak dasar atau konstitusionalnya banyak memperoleh apresiasi dari banyak pihak. Banyak kasus yang ditanganinya berhasil mendesak peradilan di AS untuk mengubah kembali presenden hukum yang telah secara mapan diterima secara umum sebelumnya. Kasus-kasus yang cukup menonjol ditangani oleh tokoh ini terutama dalam bidang pendidikan bagi warga kulit putih yang dianggap sebagai warga negara kelas tiga.

Salah satu preseden hukum yang berhasil didesak untuk diubah adalah doktrin ”separate but equal” yang terkenal dalam perkara ”Plessy v. Ferguson”. Melalui doktrin tersebut, warga kulit hitam berhak untuk diberikan pelayanan publik dan akomodasi yang sama sebagaimana warga kulit putih, seperti sekolah, ruang kamar mandi, dll, namun Negara tetap diberikan kewenangan untuk mengelola hal-hal tersebut dengan memisahkannya dalam dua kelompok berdasarkan warna kulit.[3]

Ada ungkapan yang sangat menarik dalam film tersebut. Ungkapan tersebut berbunyi “law is a weapon, if you know how to use it”. Kata-kata “weapon” dalam konteks film tersebut sekilas dapat dipandang dalam dua makna yang berbeda yaitu bermakna negatif bahwa apa yang disebut sebagai “hukum” dapat digunakan oleh pemerintah yang berkuasa sebagai alat (instrumen) yang sangat efektif untuk menertibkan rakyatnya melalui cara-cara yang represif. Sedangkan makna yang kedua dapat berarti positif, bahwa perjuangan rakyat untuk memperoleh hak-hak asasi dan konstitusionalnya dapat diperoleh dengan menggunakan norma-norma dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan sebagai tameng untuk melawan kediktatoran penguasa yang represif.

Film yang ditampilkan secara monolog tersebut, menunjukkan bahwa “hukum” memiliki fungsi instrumental untuk menentukan kondisi kenegaraan sebuah bangsa atau masyarakat apakah ‘dia’ bersifat represif atau sebaliknya memberikan ruang yang besar bagi berkembangnya kesetaraan manusia dan paham demokrasi. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan ungkapan yang cukup terkenal dalam bidang hukum bahwa pemerintah tidak boleh berlandaskan pada kekuasaan saja tetapi berlandaskan kepada hukum (man behind the law not man behind the gun).

Film ini menunjukkan bahwa apa yang diraih oleh Negara seperti AS dalam hal kesetaraaan umat manusia dan demokrasinya tidak mudah dan membutuhkan waktu serta perjuangan yang panjang. Resistensi pasti ada, namun yang menarik adalah bagaimana para aktor-aktor perubahan (agent of change) tetap on the track (konsisten) dan gigih dalam memperjuangkan persamaan hak tersebut. Bahkan Thurgood menghabiskan hampir seluruh waktu dan usianya untuk memperjuangkan persamaan hak tersebut.

Pada akhir cerita akan diilustrasikan bahwa hal-hal yang menginspirasi tersebut berawal dari kecintaan dan mimpi sang tokoh utama untuk mewujudkan Amerika yang bermatabat dan memberikan respek yang besar terhadap semua warga negara tanpa terkecuali.

Secara keseluruhan, film tersebut cukup bagus. Meskipun disampaikan secara monolog namun esensi yang ingin diutarakan dapat disampaikan dengan jelas kepada audience. Alur cerita tidak monoton (menceritakan cerita dengan sikap yang sangat serius terus menerus) dan sesekali diselingi dengan cerita komedi yang memang terkait erat dengan jalan ceritanya. Tampak sekali sang aktor sangat piawai mendalami dan melakoni peran yang dimainkannya.

Kredit yang lebih kepada film ini adalah bahasa yang dipakai untuk menceritakan alur ceritanya dan semangat yang disampaikan tidak menggunakan bahasa yang diperhalus atau kiasan namun dengan bahasa yang jelas dan terkesan terang-terangan. Bahkan untuk sebutan-sebutan yang sangat sensitif untuk diungkapkan, dalam film ini semua disampaikan.

Inti film ini adalah menceritakan bagaimana Amerika Serikat bergumul panjang dengan persoalan hukum terutama perjuangan persamaan kelas bagi warga kulit hitam. Serta bagaimana konstitusi AS merupakan simbol agung dari keberhasilan yang diperoleh AS seperti saat ini. Doktrin-dotkrin dan paham-paham yuridis yang berkembang hingga saat ini merupakan kristalisasi dan perenungan yang mendalam terhadap semangat dan teks konstitusi AS bukan saja secara normatif tetapi juga secara sosio-legal. Film ini cukup layak untuk ditonton terutama bagi semua pihak, apalagi bagi mereka yang sangat tertarik dengan persoalan hukum dan HAM serta yang terlibat dalam pelayanan publik di Indonesia.

Oleh:

Dinoroy Aritonang, S.H., M.H.[1]

Email: Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya


[1] Disadur oleh Dinoroy Aritonang

[2] Dikutip dari Wikipedia

[3] Dikutip dari Wikipedia

Login Mahasiswa

Tata Cara Membuat AKUN Mahasiswa

1. Kirim informasi via email
ke alamat:
info@stialanbandung.ac.id
mengenai :
- Nama
- NPM
- Tanggal Lahir
- Nama Depan Ibu Kandung
2. Setelah data dikirimkan,
administrator akan
membalas email Saudara
3. Setelah mendapat balasan
email dari administrator,
silakan membuat akun
melalui fasilitas yang telah
disediakan di website
STIA LAN Bandung.

Pengumuman

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Bagian Pelayanan

Pengunjung Online

Kami punya 40 tamu online

Kontak Kami

Link Website